Sutu ketika saat ketika kita sedang dalam keadaan atau
zona ‘nyaman’ ada kalanya kita bakal
takut untuk keluar dari zona(kotak) itu.
Kita bakal ngerasa takut kalau suatu saat gimana rasanya kalau kita
‘terlempar’ keluar dari kotak itu. Apa yang dapat kita lakukan, apa yang akan
terjadi? Akankah kita dapat kembali ke dalam zona itu. Sebegitu pentingkah kita berada di dalamnya?
Ya memang penting rasa nyaman itu, namun ada kalanya kita
harys keluar dari kotak itu. Tidak
selamanya berada dalam kotak nyaman itu adalah terbaik untuk kita. Agar kita bisa berlindung, bersembunyi. Bukankah hidup penuh pilihan, akankah kita
tetap memilih untuk tetap berada dalam kotak dimnaa saat itu pula kita
dihadapkan pilihan untuk keluar?
Hidup itu memang pilihan, dimana setiap pilihan itu ada
konsekuensinya. Mungkin memang aman
berada dalam kotak nyaman, namun tidakkah kita ingin melihat bahwa ada kalanya
kotak nyaman itu tidaklah hal yang terrbaik kita. Ada kalanya kita harus keluar dari sana,
melanghkah lebih maju, untuk mencapai dan menjadi lebih baik. Bukankah jika kita berada dalam kotak nyaman
kita, kita hanya terdiam dan seakan berhenti melanhkah? Bukankah disaat kita sedang asyik berada
dalam kotak nyama dan enggan untuk keluar, orang lain tetap terus melangkah?
Mengapa kita membiarkan diri kita berhenti, padahal waktu tetap berjalan? Bukankah waktu tidak pernah menunggu orang
ntuk tersadar dari lamunannya?
Terkadang kita memang perlu berhenti sejenak untuk
sekedar bernafas, sebelum nanti kita melangkah.
Kita perlu juga berada dan masuk dalam kotak nyaman saat kita benar tak
mampu lagi melangkah. Kita perlu untuk
istirahat, membiarkan orang lain melangkah selangkah di depan kita, untuk
selanjutnya nanti kita bisa melangkah 2,3 langkah di depan meraka. Namun jangn pernah biarkan ini menjadi alasan
bagimu untuk tetap selalu berada dalam kotak nyaman ini. Lihatlah waktu, sadari, pahami, lakukan apa
yang hatimu bisikkan. Jangan sampai kau
terlambat menyadari karena pesona kotak nyaman yang tak membiarkan mata,
telinga dan hatimu untuk melihat dan mendengar bisikan hati dan sekitarmu. Serta dorongan waktu untuk membuatmu tetap
melangkah.
“Ada
kalanya untuk berhenti sejanak saat kita berjalan, tapi janganlah kamu merasa
nyaman untuk tetap diam tanpa memperhatikan sekitarmu”