Pemuda Modern, Pemuda Islam Part 1


        Ini saya dapatkan pada saat saya mengikuti sebuah seminar nasional yang diadakan oleh mahasiswa salah satu universitas di Solo.  Jujur awalnya saya mengikuti seminar itu memang karena salah satu pembicara yang dihadirkan adalah salah satu penulis yang saya kagumi.  Dan itu yang menjadi alasan utama saya mengikuti acara ini sampai dibela-belain ndak pulkam (sedikit curhat :D).  Namun setelah mengikuti rangkaian acara dari seminar tersebut ternyata sangat banyak yang saya peroleh tidak hanya sekedar untuk bisa bertemu langsung dengan penulis yang saya kagumi dan mendapatkan tanda tangan :D.  Tapi ilmu dan juga pemahaman dan semangat baru J.  Terima kasih untuk kalian yang mau menemani saya menghadiri acara tersebut J.
            Ini adalah materi yang disampaikan dalam acara tersebut :
“apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemuda modern, pemuda Islam ?”
1.      Semua kita adalah spesial
Ya semua dari kita adalah spesial.  Tiap diri kita adalah spesial.  Karena sesungguhnya tiap diri kita punya kekuatan atau kemampuan yang luar biasa jika kita menyadari dan mau mengembangkannya.  Hanya saja diri kita yang terkadang kurang menyadari atau bahkan hanya melihat kekurangan diri kita saja.  Andai saja kita mau melihat dari sisi yang lain kita akan dapat melihat kemapuan kita.  Kita akan menemukan bahwa diri kita adalah spesial.
Karena kita adalah seorang mahasiswa jadi untuk yang pertama saya akan misalkan saaja seorang mahasiswa.  Kita sebagai seorang mahasiswa, jika kita mau rajin mencatat penjelasan dari dosen, jika kita teleten dan terus melakukannya, maka dalam waktu satu satu tahun saja dari catatan-catatan kita, kita sudah dapatkan berbuku-buku dari catatan kita itu.  Misalnya saja dari fisdas, matdas, dan lain sebagainya. :D.  Kita bisa mengsharekan itu dalam blog, karena mungkin akan ada orang yang lebih mudah memahami dari bagaimana cara kita menjelaskan tentang sesuatu daripada penjelasan dari buku.  Tidak terpungkiri bahwa media elektronik lebig digemari daripada buku pada masa sekarang ini.
Atau jika tidak kita bisa saja mengupload materi-materi kuliah kita, tugas-tugas kita ke dalam blog, maka itu akan dapat membantu orang lain.  Karena tidak menutup kemungkinan akan ada orang lain yang akan membuat tugas seperti halnya kita itu.  Misalnya saja saat kita ada tugas membuat makalah atau paper kita bisa menguload tugas itu di blog kita.  Jadi kita tidak harus melakukan hal yang besar itu menjadi spesial.  Karena sesunngguhnya setiap kita sudah memiliki potensi untuk menjadi spesial J.  Jika kita mau melakukan hal-hal kecil seperti di atas maka lama kelamaan itu akan menjadi hal yang besar.  Dan akan menunujukkan bahwa kita memang spsesial.
Contoh yang lain misalnya saja seorang ibu rumah tangga yang memang hobi masak.  Dia setiap hari rutin selalu mencatat resep makanan dari makanan yang ia masak.  Dalam waktu 2 tahun akhirnya ia berhasil menulis resep makanan yang ratusan dan akhirnya dipublikasikan di blog.  Dari blog tersebut akhirnya dia dapat tawaran untuk menjaduikan  buku dari resep-resep yang ia buat itu.  Dan akhirnya sekarang resep-resep dari ibu itu dibukukan dan dijual di toko-toko buku :D.
Itulah beberapa bukti nyata bahwa setiap kita adalah spesial.  Namun semua itu tetap kembali pada diri kita dan kepercayaan kita bahwa kita adalah spesial.   Jadi mulai sekarang kita mesti menanamkan pada diri kita bahwa “ kita adalah spesial”.  Kita bisa memulainya dengan melakukan hal-hal yang kecil.  Karena untuk menjadi yang spesial tak perlu melakukan hal yang besar :D.


To be continued . . . . . :D
NB: contoh diatas mungkin berbeda dari yang saya dapatkan pada waktu itu, tapi Insya Allah pemahan yang dapat “digigit” kurang lebih sama :)

alasan mengapa kita harus menulis

                              "menulislah karna senang bukan karna terpaksa"  
jika kalimat ini membuat kita menjadi enggak menulis, dengan alasan "aku ndak nulis jadi aku ndak suka nulis".  maka mungkin kita telah salah menafsirkan kalimat itu.  kalimat itu menjadi dalih untuk tidak menulis.  Ya mungkin benar juga jika kita menafsirkan demikian.   Tetapi bukankah menulis adalah kebutuhan bagi kita? Bukan merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. menulis bukanlah kewajiban kita, tapi sebuah kebutuhan yang harus kita penuhi.
Mungkin kalimat tadi akan mengubah pemahaman kita jika kita padukan dengan pepatah jawa
 "witing tresno jalaran saka kulina" yang berarti " suka itu karna terbiasa"
Bagaimana mungkin kita bisa suka atau senang namun kita enggan atau bahkan tidak pernah melakukan.  bagaimana mungkin kita kan terbiasa jika kita tidak pernah mau mencoba?  Jadi ada baiknya jika kita menganggap menulis adalah suatu kebutuhan.  maka dengan demikian akan ada dorongan bagi kita untuk menulis, karena ia adalah kebutuhan kita.  bukankah setiap orang ingin agar semua kebutuhannya terpenuhi?  lalu kenapa tidak dengan menulis ini?  jadi dengan begitu kita harus bisa melakukannya walaupun mungkin awalnya karena keterpaksaan. Dengan melakukan, dalam tempo yang berulang-ulang maka kita akan terbiasa.  Dari kebiasaan itu maka akan muncul rasa suka.  Rasa suka itu yang kemudian nantinya akan mendorong kita untuk menulis. Tidak begitu penting tulisan itu,bagus tidak, berisi tidak, yang terpenting adalah kepuasan hati kita dengan menulis.